Pengamatan Hilal Dzulhijjah oleh Observatorium Bosscha dan Universiti Malaya

Bagikan:

Bandung, FMIPA.itb.ac.id – Selasa, 21 Juli 2020 Masehi, atau dalam kalender hijriah merujuk kepada tanggal 30 Dzulkaidah 1441 Hijriah, Observatorium Bosscha telah melakukan pengamatan bulan sabit muda atau yang biasa dikenal sebagai hilal di Observatorium Bosscha, Lembang. Pengamatan ini dilakukan Observatorium Bosscha sebagai salah satu rujukan bagi Kementerian Agama Republik Indonesia serta masyarakat umum dalam penetapan awal bulan Dzulhijjah 1441 H.

Kegiatan pengamatan bulan sabit muda ini memang biasanya diadakan hampir setiap bulan. Akan tetapi, kegiatan pengamatan kali ini sedikit berbeda dibanding biasanya. Kali ini, Observatorium Bosscha bekerja sama dengan Universiti Malaya, Malaysia, untuk memberikan petunjuk teknis kepada komunitas pengamat hilal di Malaysia. Selain itu, karena pengamatan diadakan ketika masa pandemi Covid-19, pengamatan tersebut memang berlangsung tertutup dan hanya dihadiri oleh staf Observatorium Bosscha. Akan tetapi, masyarakat juga dapat menyaksikan pengamatan secara daring melalui live streaming di kanal youtube resmi Observatorium Bosscha.

Kerja sama dengan Universiti Malaya ini sendiri bukanlah kerja sama pertama yang diadakan oleh kedua lembaga. Awal mula kerja sama keduanya terbentuk di tahun 2019, ketika tim dari Universiti Malaya berkunjung ke Observatorium Bosscha dan mendapatkan paparan terkait rukyatul hilal. Setelah itu, wacana kerja sama antara kedua belah pihak mulai tersusun, yang berujung perencanaan pengadaan workshop terkait rukyatul hilal pada bulan maret 2020. Sayangnya, karena adanya pandemi Covid-19 saat ini, kegiatan tersebut terpaksa dibatalkan, dan kemudian diganti menjadi kegiatan daring berupa pengamatan bulan sabit muda 21 Juli lalu.

Dalam sebuah wawancara terpisah, Agus Triono Puri Jatmiko, salah satu staf Observatorium Bosscha menjelaskan teknis dari acara tersebut. Alat yang digunakan dalam pengamatan kali ini terdiri dari dua buah teleskop jenis refraktor dengan panjang fokus 106 mm dan 66 mm yang masing-masing telah dilengkapi dengan detektor kamera berbasis CCD. Citra yang ditangkap oleh kamera kemudian akan diproses menggunakan perangkat pengolahan citra untuk meningkatkan tampilan sabit bulan. Kegiatan ini telah dipersiapkan sejak tanggal 19 Juli dengan melakukan kalibrasi alat terlebih dahulu diiringi pengamatan sabit tua oleh staf Observatorium Bosscha.

Agus berpendapat, kegiatan kerja sama yang dapat disaksikan secara daring ini cukup efektif dalam memasyarakatkan astronomi. Selain masyarakat tidak perlu langsung mendatangi Observatorium Bosscha, mereka juga dapat berkomunikasi secara langsung dengan staf melalui live streaming kanal youtube resmi Observatorium Bosscha, bertanya secara langsung untuk kemudian dijawab oleh para staf. Cara tersebut, menurut Agus, efektif dalam pemasyarakatan ilmu astronomi di masa pandemi Covid-19 ini.

Agus juga menyatakan harapannya terhadap kerja sama dengan Universiti Malaya. Ia berharap, jejaring komunitas pengamat hilal akan makin luas, serta pengenalan teknik pengamatan yang dilakukan di Indonesia dapat dipraktikkan di Malaysia juga. Agus menambahkan bahwa ia berharap Indonesia dan Malaysia dapat saling bekerja sama, berbagi dalam bidang keilmuan astronomi, agar astronom dari kedua negara dapat berkembang lebih baik lagi. [az]

Berita Terkait

EnglishIndonesia
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com