Perjuangan Ahmad Hasbi: Usaha Tak Akan Menghianati Hasil

Bagikan:

Perjuangan Ahmad Hasbi: Usaha Tak Akan Menghianati Hasil

Bandung, FMIPA.itb.ac.id –Anwar Ibrahim, tokoh reformis Malaysia, dalam bukunya berjudul “Renaissance of Asia” mengungkapkan bahwa mahasiswa yang dibutuhkan adalah mahasiswa yang multidimensional, artinya di samping ia memiliki suatu pendalaman akan ilmu yang digelutinya seperti kedokteran, teknik, dan sebagainya, ia juga harus memiliki penguasaan terhadap filsafat dan kemampuan dialektika, serta senang pada seni, seperti sastra, musik, dan sebagainya. Inilah hakikat multidimensionalitas mahasiswa. Mahasiswa mengisi waktunya dengan berbagai pengayaan diri sehingga ia akan memiliki identitas serta integritas dalam dirinya saat terjun ke dalam masyarakat. Seringkali berkemahasiswaan dipandang sempit hanya seputar berhimpun atau berkegiatan kepanitiaan saja, padahal kemahasiswaan juga mencakup aktivitas laboratorium, riset, dan sebagainya untuk mencapai Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sendiri. Pandangan yang berusaha mendikotomikan integritas seorang mahasiswa menjadi kehidupan aktivitas kemahasiswaan dan aktivitas akademik perlu untuk diubah, sebab keduanya pada dasarnya merupakan hal yang integral dan memiliki porsi masing-masing dalam pembentukan mahasiswa yang setelah menjadi sarjana kelak dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Begitu pula yang dilakukan oleh Ahmad Hasbi Salimi, yang kerap disapa Hasbi, mahasiswa Fisika ITB angkatan 2017 yang baru-baru ini meraih prestasi Silver Honour dalam ajang International Astronomy and Astrophysics Competition, selain berkegiatan di Himpunan Mahasiswa Fisika ITB, dia pun aktif mengikuti lomba untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang ia miliki.

International Astronomy and Astrophysics Competition (IAAC) merupakan kompetisi sains internasional yang dapat diikuti siswa dari semua negara untuk membuktikan keterampilan mereka di bidang astronomi dan astrofisika. IAAC berdiri sendiri dan tidak berafiliasi dengan organisasi atau institusi manapun. Sebagian besar tim penyelenggara IAAC berbasis dari Jerman. IAAC diselenggarakan pertama kali pada tahun 2019 dan diadakan setiap setahun sekali dan pesertanya merupakan pelajar yang berusia minimal 10 tahun. Kompetisi ini membagi kategori pesertanya berdasarkan usia; Junior (di bawah 18 tahun) dan Youth (di atas 18 tahun). Kompetisi ini terdiri dari tiga tahap, yaitu Qualification, Pre-final dan Final, masing-masing tahap memiliki target nilai tertentu untuk bisa lolos. Hasbi berhasil menjadi finalis pada kompetisi ini dan mendapatkan penghargaan Silver Honour. Tahap pertama, Qualification, berisikan soal-soal astronomi mengenai tata surya. Pengalaman yang cukup unik Hasbi lewati di tahap kedua, pre-final, ia dipertemukan dengan soal advance yang membahas dark matter, gravitational waves, dan black hole. Serta diminta untuk membuat coding untuk membuat plot dari persamaan yang didapatkan. Pada tahap terakhir, ia dipertemukan dengan soal-soal mengenai topik astronomi secara umum. Untuk informasi lebih lengkap mengenai IAAC dapat diakses melalui tautan berikut https://iaac.space/.

Sertifikat SILVER HONOUR yang dianugerahkan kepada Ahmad Hasbi Salimi dari IAAC (sumber terverifikasi: https://iaac.space/en/verify)

Kompetisi ini merupakan lomba ketiga yang diikutinya selama menduduki bangku perguruan tinggi. Lomba sebelumnya merupakan Lomba Tulis Karya Ilmiah (LKTI) di Unila, bertema blackhole, namun tidak lolos sampai final. Tetapi, ia berhasil mendapatkan Juara 3  Lomba Esai “Petuah Pemuda” memperingati hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh HMI komisariat FEB UNRI. Sedangkan ketika masih duduk di bangku sekolah, ia berhasil mendapatkan medali perunggu tingkat Jawa Barat pada Astara Ganesha tahun 2015 dan Juara 1 Lomba Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) : World Space Master Quiz tahun 2015. Hasbi menyukai astronomi sejak SD dan masih mendalaminya hingga saat ini. Baginya, berkarya dengan mengikuti lomba-lomba adalah caranya mengimbangi akademik yang terbilang sulit di ITB. Terdapat kesulitan yang sempat dialaminya ketika mengikuti IAAC. Karena kuliah di jurusan Fisika, ia jadi harus me-review kembali banyak materi astronomi yang pernah dipelajarinya.  Namun kemudahannya, ia pernah mengikuti lomba seputar astronomi sehingga ia memiliki dasar materi yang baik. Serta, kuliah di ITB yang cukup berat membuatnya terbiasa mengerjakan soal-soal yang sulit.

Perjuangan Hasbi ini bisa menjadi gambaran kepada kita bahwa jika kita menanam usaha yang maksimal dan optimal, kita bisa memanen hasil yang memuaskan pula. Ia pernah berpesan bahwa kalau punya passion dalam suatu hal, kejar saja. Meskipun tidak sesuai dengan jurusan kuliah yang diambil. Seperti kutipan dari Stephen Hawking, “However difficult life may seem, there is always something you can do and succeed at. It matters that you don’t just give up.” Tantangan yang ia hadapi mungkin akan berbeda dengan yang dihadapi kalian nanti, tapi bukan berarti harus menyerah sebelum mencoba, bukan? []

Penulis: Adella Nur A (Fisika 2017), Ardhy Nur Ekasari (Fisika 2016)

Berita Terkait

EnglishIndonesia
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com