90 Tahun Teleskop Zeiss, Wujud Kontribusi ITB dalam Kemajuan Sains Astronomi

BANDUNG, itb.ac.id – Wujud kontribusi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam upaya memajukan sains Astronomi nasional maupun internasional dibuktikan lewat keberadaan Observatorium Bosscha. Salah satu elemen penting didalamnya adalah Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang telah memasuki tahun ke-90.

Observatorium Bosscha dibangun atas dasar keinginan kuat para pendirinya untuk berperan dalam sains dunia dengan memanfaatkan keunikan posisinya di ekuator dan tingginya potensi sumber daya manusia. Teleskop  berdiameter 60 centimeter dengan panjang sekitar 11 meter tersebut resmi diserahkan oleh K.A.R. Bosscha pada 1 Juni 1928. Kiprahnya dalam perkembangan ilmu fisika  bintang disalurkan salah satunya melalui pengamatan bintang ganda yang menjadi program prioritas.

Salah seorang pengamat di Observatorium Bosscha, Muhammad Yusuf, mengatakan sudah ada 12.000 pengamatan yang dilakukan oleh Teleskop Zeiss, termasuk 3.000 pasang bintang dan 4 pasang bintang telah diamati secara periode penuh serta menghasilkan lebih dari 20 publikasi di jurnal internasional. “Zeiss merupakan teknologi teleskop yang impresif, tidak hanya di zamannya, namun hingga sekarang” ujarnya.

Sampai dengan tahun 1980-an, teleskop terbesar dan tertua di Observatorium Bosscha ini menggunakan sistem detektor fotografi. Hingga akhirnya teknologi detektor digital berupa CCD astronomi mulai digunakan sejak awal 1990-an. Setelah itu, instrumentasi teleskop terus dimodernisasi. Perawatan yang konsisten menjadi kunci teleskop masih berfungsi dan berjalan dengan baik hingga kini.

Dalam perjalanannya, Observatorium Bosscha mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk menyumbangkan hasil pengamatan dan penelitian astronomi. Dalam memaksimalkan hal tersebut, diperlukan kondisi langit yang bersih dan tidak terganggu oleh polusi cahaya. Kepala Observatorium Bosscha, Premana W. Premadi memaparkan bahwa tingkat polusi cahaya di daerah Lembang semakin meningkat tiap tahunnya.

“Tingkat polusi meningkat karena Kota Bandung semakin terang, sehingga cakupan langit (untuk pengamatan) semakin menyempit,” ujar Nana, sapaan akrabnya.

Hal tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar untuk Observatorium Bosscha dalam melanjutkan peran positifnya dalam astronomi. Upaya mengurangi polusi cahaya, ITB bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta instansi-instansi terkait untuk secara proaktif mengurangi polusi cahaya di kawasan cekungan Bandung melalui aturan-aturan tata cahaya sebagaimana tercantum pada Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.

Peringatan ke-90 tahun Teleskop Zeiss diperingati pada Sabtu (1/12/2018) di Wisma Kerkhoven, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Acara tersebut diisi dengan seminar, presentasi, serta kunjungan ke Teleskop Zeiss dengan banyak melibatkan praktisi Astronomi di Indonesia.

Dalam acara peringatan ulang tahun Telskop Zeiss ini, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, M.Sc., Ph.D., ITB mengatakan, kualitas langit yang baik, dan bersih dari polusi udara dan polusi cahaya, diperlukan secara lebih luas untuk kualitas hidup yang baik umat manusia, keanekaragaman hayati, dan kesetimbangan ekosistem, yang merupakan bagian amat penting dari pembangunan berkelanjutan, terutama di Indonesia.

Foto : Humas ITB

Foto : Humas ITB

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Bosscha adalah membagikan tudung lampu secara gratis guna meminimalisasi polusi cahaya kepada beberapa daerah di Lembang. Kegiatan tersebut diimbangi dengan sosialiasi kepada masyarakat sekitar dan melalui pendidikan di sekolah dasar tentang pentingnya menjaga langit dari polusi cahaya.

Reporter Kantor Berita ITB : Rayi Harjani

Berita Terkait

EnglishIndonesia