Saatnya Berbagi: Jawaban dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan

Bagikan:

Bandung, FMIPA.itb.ac.id.   -Moh. Hatta mengatakan bahwa tujuan perguruan tinggi adalah mencetak insan akademis. Insan akademis sendiri adalah seseorang yang dapat menciptakan solusi bagi permasalahan di lingkungan sekitarnya. Insan akademis memiliki dua peran yaitu untuk selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan serta selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah, sesuai dengan watak ilmu itu sendiri. Tantangan di masa depan semakin sulit diprediksi, hal ini membuat kita sebagai generasi muda harus dapat menyadari dan mampu mendeskripsikan melalui konsep bernama VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Dengan begitu, memiliki pikiran yang terbuka, semangat untuk terus belajar, dan selalu kritis terhadap isu-isu yang beredar merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan generasi sekarang. Lalu, bagaimana cara kita menghadapi tantangan masa depan di saat pandemi Covid-19 ini?

Kondisi saat ini tidak mematahkan semangat kedua alumni Fisika ITB angkatan 2016, Badia Timothy Yohanes Turnip dan Christoper Wijaya dalam menginisiasi acara bertajuk “Saatnya Berbagi”. Adanya acara tersebut dikarenakan banyaknya permintaan dari teman-teman khususnya jurusan Fisika ITB untuk mengetahui informasi mengenai beasiswa kuliah di luar negeri. Logo segitiga yang ada pada poster juga memiliki makna bahwa untuk berbagi tidak harus sudah berada di puncak kesuksesan. Tujuan acara tersebut adalah untuk menyediakan informasi tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan dan cara mendapatkan beasiswa luar negeri yang akan dibahas oleh alumni Fisika ITB. Selain berbagi informasi mengenai beasiswa, acara ini juga menampung donasi yang dikumpulkan dari sejumlah mahasiswa yang mengikutinya, yang nantinya disalurkan ke kitabisa.com sebagai dana bantuan Covid-19. Sementara itu, Saatnya Berbagi pun membuka kesempatan sharing session  mengenai pengalaman kerja di Consulting Firm dan Startup di Indonesia dengan mendatangkan alumni Fisika ITB sebagai pembicara.

Saatnya Berbagi mengundang Kevin Misrano Khanwijaya yang merupakan alumni Fisika ITB angkatan 2015 sebagai pembicara, yang telah menerima beasiswa Global Korean Scholarship for Graduate Degree (formerly named as KGSP). Kevin mengikuti Kelompok Keahlian Fisika Nuklir dan Biofisika. Dalam acara tersebut, Kevin membahas bagaimana pengalamannya mendapatkan beasiswa S2 di Korea. Acara diadakan pada hari Jumat, 3 Juli 2020 pukul 14.00 hingga 15.00 WIB dengan menggunakan google meet sebagai platform untuk berbagi informasi dan tanya-jawab. Beasiswa yang didapatkan merupakan beasiswa yang dibiayai oleh pemerintahan Korea. Program beasiswa ini terdiri dari rangkaian persiapan yaitu satu tahun Korean Language Program dan dua tahun Master Program atau tiga tahun Doctoral Program. Apabila sudah lancar berbahasa Korea, satu tahun persiapan bahasa Korea tidaklah diperlukan. Ada dua track yang disediakan, namun harus memilih salah satu jalur (melalui NIIED: panitia beasiswa, agar tidak melebihi kuota). Tiga pilihan tidak begitu mempengaruhi prioritas, bisa jadi diterima atau ditolak oleh pilihan ke berapapun, tidak seperti sistem SNMPTN/SBMPTN yang mendahulukan prioritas. Master program boleh jadi tidak berhubungan dengan jurusan sarjana yang telah diambil di Indonesia. Untuk info lebih lanjut mengenai beasiswa yang didapat dapat dilihat pada studyinkorea.go.kr.

Selain Kevin Misrano, Saatnya Berbagi juga mengundang alumni Fisika ITB angkatan 2015 yaitu Andi Gumarilang Cakti Ahmadi, yang biasa disapa Cakti, pada Rabu, 8 Juli 2020 pukul 13.00 hingga 14.00 WIB. Cakti mendaftarkan diri di MEXT Scholarship, yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Jepang. Sebelum mendaftar, Cakti melakukan riset profesor di beberapa universitas di Jepang, untuk menyesuaikan topik studi lanjut yang akan diambilnya. Kemudian, dia melakukan pendekatan dengan profesor melalui e-mail untuk mengetahui lebih jauh riset dari profesor tersebut.  MEXT Scholarship membiayai penuh dana perkuliahan, menyediakan uang bulanan, tiket pesawat pulang-pergi Indonesia-Jepang, serta bebas pengurusan visa pelajar, fasilitas asrama bagi universitas yang memiliki asrama dan tanpa ikatan dinas. Setelah menerima MEXT Scholarship, mahasiswa dapat menjadi research student di bawah pengawasan profesor yang sudah dipilih. Menimba ilmu program magister ini berdurasi dua tahun, dapat diperpanjang apabila melanjutkan studi di program doktor. MEXT Scholarship menyediakan dua jalur, yaitu u2u (University recommendation) dan g2g (Embassy recommendation). Info lebih lengkap terkait MEXT Scholarship dapat diakses melalui http://www.transenzjapan.com/blog/mext-scholarship-application-faq-how-to-get-started/ serta https://www.kyoto-u.ac.jp/en/education-campus/procedures/scholarships/mext.html untuk timeline yang disediakan oleh MEXT Scholarship.

Sabtu, 11 Juli 2020 pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, Saatnya Berbagi kembali mengundang alumni Fisika ITB angkatan 2014, Stefanus Kurnia Wijaya yang pernah bekerja di Business Analyst MarkPlus, Inc pada tahun 2018 hingga 2020 dan sekarang bekerja di Project Management Associate Shopee. Stefanus berbagi pengalamannya dalam mendapatkan pekerjaan di luar bidang Fisika. Tantangan terbesar yang dihadapi justru adalah harus belajar hal-hal baru sesuai bidang yang akan diambil, dalam hal ini dia belajar dari nol mengenai konsultan dalam suatu perusahaan. Meskipun ilmu-ilmu dalam Fisika sudah tidak terlalu terpakai, namun pengalaman kuliah di Fisika serta kebiasaan yang diterapkan di Program Studi Fisika ITB seperti pengerjaan laporan mata kuliah Eksperimen Fisika yang menuntut mahasiswa harus berpikir runtut maupun ujian yang berturut-turut berguna dalam perilaku yang harus diterapkan saat bekerja. Dia pun berpesan bahwa selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha.

Saatnya Berbagi merupakan kegiatan sederhana yang diinisiasi oleh dua alumni Fisika angkatan 2016, namun sangat berguna untuk mempersiapkan kehidupan pasca perkuliahan. Badia dan Christoper pun mengaku bahwa kegiatan ini juga merupakan media mereka dalam mencari ilmu mengenai beasiswa maupun pengalaman mencari pekerjaan. Ketika kebermanfaatan yang didapat dapat diamplifikasi dengan dapat berdonasi sehingga dapat disalurkan di kitabisa.com, harapannya generasi muda dapat semakin adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan di kala pandemi.[]

Penulis: Ardhy Nur Ekasari (Fisika 2016), Adella Nur Apriati (Fisika 2017)
Editor : M. Rizkie Arbie

Berita Terkait

EnglishIndonesia
WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com