Memahami Alam Semesta

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengertahuan Alam, ITB menyelenggarakan kegiatan “Seri Kuliah Umum FMIPA” yang diselenggarakan setiap 4 bulan sekali. Seri kuliah umum ini terbuka untuk semua kalangan. Hasil rekaman kuliah umum ini “di-upload” pada web-site You Tube.

Seri Kuliah Umum pertama dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2015 bertempat di Auditorium Campus Center Timur ITB dengan tema Memahami  Alam Semesta. Ada 4 pembicara yang memberikan presentasi yaitu :

  1. Dr. rer.nat. Rino Rakhmata Mukti “Kimia Terinspirasi Alam”
  2. Dr. Johan M. Tuwankotta “Chaos vs Keteraturan”
  3. Prof. Dr. Bobby Eka Gunara “Teori Unifikasi dan Materi Gelap”
  4. Prof. Dr. Taufiq Hidayat “Berburu Planet di Bintang Lain”

poster-kuliah-umum-november-2015


“Kimia Terinspirasi Alam”

Rino R. Mukti

Kelompok Keilmuan Kimia Anorganik dan Fisik,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
e-mail: mukti.rino@gmail.com; rino@chem.itb.ac.id

Alam merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Sejauh ini, manusia telah banyak belajar dari fenomena alam sehingga ilmu pengetahuan dapat berkembang dengan sangat cepat dan berguna untuk memudahkan kehidupan bermasyarakat. Kimia adalah salah satu disiplin ilmu sains yang mengadopsi peristiwa di alam. Perubahan akan wujud materi dari fasa gas, cair dan padat membuat manusia dapat mengolah sarana kehidupan seperti energi dan kebutuhan lainnya yang sebagian besar berasal dari sumber daya alam. Tercatat lebih dari 85% energi dunia yang kita manfaatkan sekarang didapatkan dari hasil pembakaran minyak bumi, batubara dan gas alam. Produk samping dari pengolahan tersebut dapat juga menjadi ancaman terhadap perubahan iklim dan lingkungan hidup manusia. Hal ini mendorong kimiawan melakukan terobosan terhadap ilmu kimia guna menyelesaikan permasalahan yang ada dan dapat memanfaatkan kembali produk samping yang sebelumnya menjadi ancaman guna tercapainya suatu sistem berkelanjutan (sustainable) di dalam kehidupan manusia. Untuk dapat melakukan terobosan, ilmu kimia dapat dikembangkan dengan kembali terinspirasi oleh alam. Material maju yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi alternatif, pembuatannya dapat terinspirasi oleh benda-benda serta proses yang ada dan terjadi di alam. Sebagai contoh, proses fotosintesis dari tanaman dan organisme lainnya yang dapat mengubah energi surya menjadi energi kimia. Hal ini dapat menginspirasi pemanfaatan sel fotovoltaik dalam mengubah energi surya menjadi energi listrik. Inspirasi lain oleh alam yang dapat membantu pengembangan ilmu kimia terkini akan dipaparkan lebih lanjut dalam kuliah umum FMIPA ITB.

“Chaos vs Keteraturan”

Johan M. Tuwankotta

Kelompok Keilmuan Analisis dan Geometri,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
e-mail: theo@math.itb.ac.id

 Sejak abad ke 18, para ilmuan percaya dengan konsep deterministik, di mana jika semua aturan di alam diberikan, dan semua kondisi awalnya dapat diduplikasi, maka perdiksi masa depan maupun sejarah masa lalu dapat diungkapkan dengan tegas.  Pada pergantian abad ke 20, dunia ilmu pengetahuan disadarkan bahwa konsep deterministik ini terlampau sulit untuk dipenuhi.  Salah satu fenomena yang mengubah pandangan ini adalah: dinamika chaotic.  Kuliah ini ingin mengungkapkan sedikit keindahan dari kompleksitas dinamika Chaotic, dimana determinisme dan prediksi dikontraskan, Chaos dan struktur tidak saling meniadakan, dan Chaos dan keteraturan dapat hadir bersama-sama.

“Teori Unifikasi dan Materi Gelap”

Bobby Eka Gunara

Kelompok Keilmuan Fisika Energi Tinggi dan Instrumentasi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
e-mail: bobby@fi.itb.ac.id

Dalam kuliah ini saya membahas tentang perkembangan fisika modern terutama pada skala subnuklir. Secara khusus dibahas tentang perkembangan model-model teori unifikasi hingga saat ini. Dalam bagian akhir, dibahas model MSSM (Minimal Supersymmetric Standard Model) yang merupakan model yang akan dites dalam waktu dekat oleh LHC (Large Hadron Collider) di CERN, Jenewa, Swiss. MSSM menjamin adanya titik unifikasi dari tiga interaksi dasar (yaitu interaksi elektromagnetik, interaksi lemah, dan interaksi kuat). Adanya titik unifikasi tersebut disebabkan oleh partikel-partikel superpartner yang bermassa sangat berat dan diduga merupakan materi gelap dimana keberadaan mereka sangat berlimpah di alam ini.

“Berburu Planet di Bintang Lain”

Taufiq Hidayat

Kelompok Keilmuan Astronomi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
e-mail: taufiq@as.itb.ac.id

Setelah upaya yang sangat panjang, awal abad ke-21 ditandai oleh revolusi baru dalam astronomi, yaitu kita telah memasuki era eksoplanet. Dengan kata lain, keberadaan planet-planet di bintang lain bukan lagu suatu hipotesis. Sudah hampir 2000 planet ditemukan di luar Tata Surya, dengan berbagai metode deteksi. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dalam waktu yang relatif cepat, termasuk planet-planet berukuran kecil seperti Bumi kita. Dalam kuliah ini, akan dipaparkan ringkasan tentang planet-planet di Tata Surya sebagai rujukan untuk perbandingan dengan berbagai eksoplanet yang telah ditemukan. Metode deteksi yang paling produktif sampai sejauh ini akan dibahas. Planet-planet yang ditemukan ternyata sangat beragam dan memiliki sifat-sifat yang sangat berbeda dengan kondisi Tata Surya kita. Implikasi dari penemuan eksoplanet ini juga akan dibahas pada bagian akhir kuliah.


 

EnglishIndonesia