Enter your keyword

Peluncuran Buku “Sahabat Bosscha”

Peluncuran Buku “Sahabat Bosscha”

Bagikan:

“Diluar dugaan, apa yang telah dilakukan K.A.R. Bosscha pada pembangunan awal kota Bandung ternyata sangat luar biasa. Hampir semua aspek pembangunan kota Bandung masa itu mendapat bantuan dari Bosscha, baik berupa bantuan fisik maupun moral.”

Hal tersebut diungkapkan Ridwan Hutagalung, pemerhati sejarah dan juga pengasuh komunitas sejarah Aleut pada peluncuran buku dari Sahabat Bosscha (22/2/2014) di Gedung Basic Science Center A, ITB, Bandung. Buku ini merupakan  hasil tulisan dari anggota komunitas Sahabat Bosscha, sebuah komunitas yang memiliki tujuan untuk menapak jejak sejarah mengenai KAR Bosscha dan meneruskan nilai-nilai kebaikan yang selalu dianut Bosscha di sepanjang usianya.

Karel Albert Rudolf Bosscha, atau KAR Bosscha (1865 –1928) adalah seorang philanthropist dan administrator dari the Malabar Plantation di Bandung, Indonesia, semasa pemerintahan Hindia Belanda. Sumbangan Bosscha pada kota Bandung sendiri dapat dikatakan melingkupi berbagai aspek, mulai dari Rumah Sakit Mata di Cicendo, lembaga bantuan untuk penyandang cacat  buta dan tuli, turut berkontribusi pula pada pembangunan awal Institut Teknologi Bandung (gedung Fisika FMIPA, prasasti/batutulis di R.1201), dan yang paling terkenal adalah mendirikan observatorium Bosscha di daerah Lembang. Untuk mengenang jasanya, sebuah asteroid diberi nama Karelbosscha pada tahun 1971.

Eka Budianta, salah satu pendiri komunitas Sahabat Bosscha sendiri menilai pembangunan observatorium ini merupakan puncak prestasi Bosscha. “Pembangunan observatorium adalah lompatan yang sangat besar dalam pengembangan Astronomi di Indonesia, sesuatu yang belum terpikirkan oleh bangsa kita pada tahun 1923”. Tahun 1923 adalah awal kelahiran metode ilmiah dan sains di Indonesia.

Pada sesi bedah buku, Budianta memberi apresiasi kepada komunitas Sahabat Bosscha yang walaupun terhitung baru terbentuk namun telah mampu melahirkan karya-karya, meskipun diakui dalam buku ini masih banyak kekurangan. Kurangnya informasi mengenai kehidupan dan buah pemikiran Bosscha di tanah air menjadi penyebabnya. “Tentu buku ini jauh dari sempurna. Kutipan atau buah pemikiran langsung dari Bosscha saja tidak dapat kita jumpai di buku ini. Namun satu hal yang sangat perlu kita catat adalah nilai-nilai kemanusiaan yang dibawa Bosscha, kecintaannya pada masyarakat, dan banyak lagi inspirasi yang dapat kita gali dari sosok Bosscha.”

Selain peluncuran dan bedah buku dari Sahabat Bosscha, ada juga sesi talkshow mengenai Astronom dan Astronomi Indonesia yang disampaikan oleh Ketua Kelompok Keahlian Astronomi ITB, Prof. Dr. Suryadi Siregar.

Di akhir acara, Gustaff Harriman Iskandar, seniman yang juga alumnus FSRD ITB, menampilkan komposisi musik yang unik. Komposisi tersebut merupakan gabungan dari rajah Sunda dan bebunyian yang dikonversikan dari frekuensi radio yang ditangkap dari flare.  Gustaff menyampaikan bahwa ilmu astronomi yang mulai berkembang di Indonesia  bisa menginspirasi  seniman-seniman. “Sudah hampir seratus tahun semenjak wafatnya tetapi Bosscha tetap bisa menginspirasi Gustaff di masa sekarang,” tutur Eka Budianta. Beliau berharap, ke depannya komunitas Sahabat Bosscha berkembang dan semakin banyak anggotanya, juga dapat menghasilkan lebih banyak karya-karya. (DPT&MH)

X