Menggagas Energi Masa Depan : 39 Peserta Didik SMA Program BTI Unjuk Gigi Inovasi Energi Terbarukan di ITB

Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) kembali mengadakan program Bina Talenta Indonesia (BTI) untuk mengembangkan talenta murid dan kapasitas guru dalam berbagai bidang, salah satunya STEM. Kolaborasi antara Puspresnas dan Direktorat Persiapan Bersama (Ditsama) Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan 39 peserta didik SMA dari seluruh penjuru Indonesia untuk mempresentasikan prototipe pembangkit listrik mereka.
Acara ini berlangsung dengan antusiasme tinggi pada Senin, 13 Juli 2026 di Ruang Seminar 2, Labtek XV Lantai 8—atau yang lebih dikenal sebagai Gedung Rekayasa Molekular dan Material Fungsional. Berbekal modul dan pembelajaran dari dosen serta akademisi FMIPA ITB, 8 kelompok STEM siap maju satu per satu ke atas panggung. Mereka akan mempresentasikan hasil karyanya di hadapan dewan juri dari Program Studi Fisika, yakni Dr. Dhewa Edikreshna, Bc.Eng., M.Si. dan Dr. Fauzia Puspa Lestari, S.Si., M.Si.
Uniknya, ketika presentasi berlangsung, program BTI juga mengadakan pameran bagi pengunjung eksternal dari pukul 09.00-12.00. Mereka dapat menghampiri 8 booth yang ada, menerima penjelasan, maupun memberikan pertanyaan langsung kepada para pemilik karya. Model pembangkit listrik yang mereka tunjukkan beragam, mulai dari panel surya, maupun pembangkit tenaga bayu dan mikrohidro. Seluruh model ini difokuskan untuk pengaplikasian pada daerah 3T, yaitu daerah yang Tertinggal, Terdepan, dan Terluar di wilayah Indonesia. Walau begitu, solusi yang dihadirkan oleh para peserta didik tidak kalah kreatif!
Salah satunya adalah pembuatan Kapal Energi Hybrid yang memanfaatkan tenaga angin bayu untuk memutar turbin di bawah kapal. Ide ini lahir dari keresahan kelompok akan harga bahan bakar yang terus meningkat—berujung pada penurunan kapal aktif dan pemasukan mata pencaharian bagi penduduk desa. Model dari kelompok lain adalah PLTMH dengan Tenaga Mikrohidro berbasis Internet of Things (IOT). Kelompok ini memanfaatkan potensi sumber daya air yang melimpah di desa dan sistem IoT untuk menganalisis dan menginformasikan petugas mengenai output dan input dari pembangkit listrik, salah satunya jumlah listrik yang dihasilkan.
Alat dan bahan yang digunakan cukup simpel, seperti botol bekas, tutup botol, stik es krim, sendok plastik bekas, dan kardus bekas. Sementara itu, kebanyakan modal dialokasikan untuk komponen elektronik seperti mikrokontroler, LED, dan berbagai macam sensor. Menurut Pak Dhewa, penelitian dan prototyping seperti ini memang mendorong generasi muda untuk menginovasikan solusi menggunakan barang-barang yang sudah ada.
“Untuk rumah [model] ini terbuat dari bahan bekas kotak catering kami dan dilengkapi dengan sumber terbarukan. Ini kami terinspirasi dari patung Green Hercules di ITB Jatinangor yang juga dibuat dari bahan bekas,” sahut Alif dari Tasikmalaya yang kelompoknya membawakan inovasi rumah bertenagakan panel surya.
Tidak hanya itu, pembelajaran menarik juga dialami oleh Patricia dan Azuro yang kelompoknya membuat Aerator Terapung Berbasis Sel Surya dan Terintegrasi Sensor Area. Kelompok ini menghadirkan solusi bagi para pembudidaya atau petani ikan di desa yang aeratornya sering kali menabrak dinding tambak karena tidak ada sensor.
“Kami baru belajar menyolder di sini karena kami enggak pakai breadboard. Kami juga enggak pakai kabel jumper karena bakal nambah hambatan,” kata Patricia dan Azuro.
Tantangan lainnya yang dihadapi oleh para peserta adalah waktu pengerjaan selama dua hari. Hal ini tidak menghentikan Darren dan kelompoknya untuk membuat model pedesaan yang memanfaatkan tiga energi terbarukan sekaligus. Biogas akan digunakan untuk memasak, sedangkan tenaga bayu dan mikrohidro digunakan untuk menyuplai listrik di desa.
“Kita mau memaksimalkan potensi yang ada. Kalau semisalnya daerah tersebut berpotensi untuk memakai tenaga angin terus mikrohidro, lebih baik kita manfaatkan,” jelas Darren.
Pengalaman dan karya ini menjadi momentum penting bagi peserta didik SMA binaan BTI dan para akademisi FMIPA ITB untuk mendalami STEM. Walaupun diwarnai berbagai tantangan dan keterbatasan prototipe, proses ini berhasil menjadi wadah belajar yang bermakna.
SDG Terkait:
SDG 4 – Quality Education
SDG 17 – Partnerships for the Goals
Report by : Jolene Sulung (10225040)
