Seri Kuliah Umum FMIPA ITB: “MIPA: Sejarah dan Arah Perkembangan ke Depan”

BANDUNG, fmipa.itb.ac.id,  -Sabtu, 1 September 2018, FMIPA ITB kembali mengadakan kuliah umum dengan pembicara tiga guru besar FMIPA ITB yang telah purna bakti, yaitu Prof. Bambang Hidayat, Prof. Susanto Imam Rahayu, dan Prof. Tjia May On. Seri kuliah umum yang rutin diadakan tiap tiga bulan sekali ini berlangsung di Auditorium Campus Center Timur ITB dari pukul 08.30 hingga 12.00. Acara terbuka untuk umum dan dimulai dengan sambutan dari Prof. Edy Tri Baskoro selaku dekan FMIPA ITB.

Prof. Dr. Bambang Hidayat; Foto : FMIPA-ITB

Sesi kuliah pertama diisi oleh Prof. Bambang Hidayat yang merupakan purna bakti guru besar astronomi dengan mengangkat tema “Relevansi Ajaran dan Penelitian Ilmu Dasar Bagi Kemaslahatan”. Dalam kesempatan tersebut Prof. Bambang Hidayat terlebih dahulu memberikan gambaran tentang bagaimana pendidikan tinggi di Technische Hoogeschool (TH) Bandung bermula.

Salah satu contoh yang diambil adalah tentang kisah awal mula TH Bandung membuka jurusan teknik sipil supaya bisa ‘menaklukkan’ air. Ketika itu manusia berusaha memahami bagaimana perilaku air sehingga kelimpahannya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Dari periode waktu tersebut bisa dirasakan bagaimana pendidikan turut mengedepankan aspek filosofis dan humaniora. Kelak landasan pemikiran tersebut akan berguna dalam pengambilan kebijakan terkait pembangunan infrastruktur fisik. Hal tersebut merupakan parameter yang cukup penting sebab menyangkut citra sebuah negara di mata negara lain . Di sini, Prof. Bambang Hidayat menekankan pentingnya pendidikan humaniora pada mahasiswa bidang STEM (Science Technology Engineering Mathematics) dan tanggung jawab perguruan tinggi dalam memfasilitasi kebutuhan tersebut.

Prof. Dr. Susanto Imam Rahayu; Foto : FMIPA-ITB

Sesi kuliah kedua diisi oleh Prof. Susanto Imam Rahayu selaku purna bakti guru besar kimia. Dalam kesempatan tersebut beliau mengangkat tema “Introspeksi Perkembangan Ilmu Kimia di ITB”. Dari judul tersebut beliau memaparkan secara detil dan mendalam tentang bagaimana sejarah perubahan kurikulum jurusan kimia di ITB.

Prof. Susanto Imam Rahayu memaparkan bagaimana transisi sistem pendidikan yang semula berkiblat kepada Belanda kemudian berubah mengikuti Amerika Serikat. Pada masa Belanda, mahasiswa memiliki waktu yang lebih panjang dan fleksibel untuk berkutat di dalam laboratorium. Kondisi seperti ini mendorong mahasiswa untuk mempelajari konsep dasar secara mandiri atas dasar rasa keingintahuan diri sendiri. Namun ketika periode transisi terjadi, masa perkuliahan dan aktivitas di laboratorium dikuantisasi lewat sistem kredit. Hal tersebut berdampak cukup signifikan hingga saat ini dalam konteks pemberian pendidikan dasar. Pendidikan dasar tersebut meliputi matematika dan fisika di mana seharusnya didapatkan oleh jurusan kimia dengan porsi yang mendalam pula. Kondisi sistem pendidikan yang masih berlaku hingga saat ini menyebabkan kurangnya ruang untuk menjelaskan tentang bagaimana ide di balik berbagai penemuan yang telah ada. Oleh karena itu, saat ini banyak di antara kita yang hanya mengenal sains sebagai aspek kognitif saja ketimbang aspek budaya.

Prof. Tia May On, Ph.D., Foto : FMIPA-ITB

Sesi kuliah terakhir bertajuk “Sejarah Pendidikan Tinggi Fisika di ITB dan Arah Perkembangan ke Depan” diisi oleh Prof. Tjia May On yang merupakan purna bakti guru besar fisika. Di sini beliau memaparkan bagaimana jurusan fisika di TH Bandung pada tahun 1920-an memiliki kontribusi signifikan dalam penelitian sinar kosmis yang tengah berkembang pesat saat itu. Tercatat bahwa terdapat beberapa fisikawan Belanda terkemuka pada periode tersebut yang melakukan penelitian bersama TH Bandung seperti Jacob Clay dan Heike Kamerlingh Onnes.

Dari rekam jejak sejarah yang telah dipaparkan, Prof. Tjia May On menjelaskan akan pentingnya integrasi antara lembaga akademik, industri, pemerintahan, dan tentunya dukungan kepala negara supaya terbangun infrastruktur riset seperti yang telah dilakukan lama dilakoni negara-negara maju. Sebab bukan hanya infrastruktur fisik saja yang krusial, namun juga infrastruktur sains (penelitian). Kondisi infrastruktur sains lah yang menentukan apakah kita akan terus menjadi objek pasar dunia atau bertransisi menjadi seorang pelaku.

Foto : FMIPA-ITB

Foto : FMIPA-ITB

Pemaparan dari ketiga purna bakti guru besar membuat peserta berefleksi untuk langkah selanjutnya demi perkembangan sains dan riset yang lebih baik. Kedua aspek krusial itu lah yang senyatanya berdampak langsung kepada kemaslahatan umat. (Reporter : Miftahanzi Saraswati; Ed.: MI)

Berita Terkait

EnglishIndonesia